Selasa, 11 Mei 2021

Minimalisir Penggunaan Herbisida Kimia

 Cara Minimalisir Herbisida Kimia

Kehadirsan gulma dengan populasi yang rendah pada umumnya tidak terlalu mengganggu pertumbuhan dan hasil suatu tanaman budidaya. Namun pada populasi tertentu dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil, dan menyulitkan pemanenan. Umumnya beberapa golongan gulma yang tumbuh yaitu gulma teki, berdaun sempit, dan berdaun lebar. Dominasi gulma pada suatu lahan dapat disebabkan oleh daya adaptasi maupun cara berkembang biak suatu gulma.

Gulma merupakan pesaing tanaman dalam memanfaatkan ruang, cahaya, air dan unsur hara sehingga tanaman utama tidak dapat tumbuh optimal. Aplikasi herbisida umumnya dilakukan guna meminimalisir pertumbuhan gulma.Penggunaan herbisida dapat dengan cepat mengatasi keberadaan gulma, namun di sisi lain pengggunaan herbisida yang terus menerus mengakibatkan berbagai dampak negatif yang dapat membahayakan lingkungan dan makhluk hidup. Air, tanah, dan udara dapat tercemar yang pada akhirnya dapat merusak ekosistem. Penggunaan yang tidak sesuai aturan juga dapat mengakibatkan keracunan pada manusia. Gulma juga akan menjadi lebih resisten dan ketahanan hidupnya semakin meningkat yang pada akhirnya justru akan mempersulit pengendaliannya. Tabroni et al. (2018), juga menambahkan bahwa sebagian besar herbisida yang diaplikasikan ke tanaman akhirnya akan jatuh ke tanah, kemudian menyebabkan timbulnya residu herbisida. Residu herbisida ini akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu yang akan terjerap oleh fraksi liat dan bahan organik dalam tanah. Residu herbisida bersifat toksik bagi tanah karena dapat membunuh mikroba tanah, yang sebenarnya bukan targetnya (non target microorganism) sehingga mengganggu aktivitas mikroorganisme tanah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi siklus hara dalam tanah.

Gambar 1. Gulma (Sumber foto: Pribadi)

Walaupun telah diketahui bahwa herbisida memiliki dampak buruk terhadap lingkungan terutama herbisida kimia, namun penggunan herbisida masih tetap diperlukan dalam pertanian. Penggunaan herbisida hanya dilakukan apabila benar-benar diperlukan sebagai upaya pengendalian terakhir setelah pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi permasalahan gulma tersebut. Salah satunya yaitu menurut Antralina et al. (2015), dua strategi efektif dalam pengendalian secara kimiawi adalah dengan melakukan rotasi herbisida dan adanya pencampuran penggunaan herbisida. Pencampuran herbisida dengan bahan aktif yang berbeda bertujuan untuk mendapatkan kontrol spektrum yang lebih luas dan diharapkan untuk memperlambat munculnya gulma resisten terhadap herbisida, mengurangi biaya produksi, dan mengurangi residu herbisida.

Tingkatan dalam melakukan pengelolaan gulma adalah pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan. Pencegahan dilakukan dengan cara mencegah pertumbuhan gulma baru pada suatu tempat serta membatasi pertumbuhan gulma di kebun (Ashton and Monaco 1991). Martins et al. (2015) menambahkan, pentingnya menjaga kualitas tanah merupakan salah satu unsur demi keberlanjutan budidaya. Periode sampling, tanaman penutup tanah (cover crop) yang berbeda, dan metode pengendalian gulma mempengaruhi keberagaman gulma, bobot kering gulma, kandungan karbon tanah dan tingkat humifikasi.

Pengendalian gulma terpadu bermanfaat untuk meminimalisir dampak dari penggunaan herbisida, emisi gas rumah kaca, erosi tanah dan biodiversitas (Chikowo et al. 2009). Salah satu caranya ialah mengatur jarak tanam dan waktu penyiangan gulma. Jarak tanaman yang semakin sempit dengan pola tanam tumpang sari maupun monokultur mampu menekan pertumbuhan gulma. Waktu yang tepat untuk penyiangan ialah pada saat kondisi lahan terbuka atau tajuk tanaman belum saling menutupi karena pada masa ini (stadia awal pertumbuhan tanaman) sinar matahari dapat menembus sampai ke permukaan tanah dan mendukung pertumbuhan gulma (Purba dan Sebayang 2019).

Dampak negatif yang timbul diusahakan sekecil mungkin, sedangkan manfaatnya diupayakan sebesar mungkin, dalam hal ini memperkecil residu herbisida pada hasil pertanian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut (Jayanti dan Suprapta 2009):

1.    Memilih herbisida yang muda terurai (tidak persisten)

Suatu pestisida tertentu termasuk herbisida mempunyai sifat mudah teroksidasi, tereduksi, terhidrolisa dan mengalami reaksi lain sehingga akan rusak atau bahkan menjadi senyawa Iain yang tidak berbahaya. Berdasarkan sifat fisikokimianya ada herbisida yang tidak mudah rusak di alam, sehingga tetap berada di alam dalam jangka waktu panjang (persisten). Sebaliknya, ada pestisida termasuk herbisida yang mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam sehingga keberadaannya di alam hanya dalam waktu pendek (non persisten). Cara untuk mengukur mudah tidaknya suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan parameter waktu paruh {Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa tersebut terurai di alam (dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah, air, udara). DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan jangka waktu tahun.

2.    Memilih herbisida yang tepat sasaran

Supaya penggunaannya efektif, jenis pestisida yang akan digunakan harus tepat, yaitu disesuaikan dengan OPT (hama, penyakit, dan gulma) sasaran yang menyerang tanaman. Seperti hebisida yang digunakan untuk membunuh gulma bukan untuk membunuh jamur. Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri dan tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain. Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak "sembuh". Hal tersebut mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang salah satu dampaknya adalah bertambahnya residu. Sebaliknya, apabila jenis yang dipiiih benar dan efektif maka tidak diperlukan aplikasi ulangan lagi sehingga residunya rendah. Oleh karena itu, OPT yang menyerang hams diamati secara cermat sebelum memilihjenis pestisida yang tepat.

3.    Pengaturan cara aplikasi herbisida

Aplikasi herbisida seharusnya hanya dilakukan pada waktu popuiasi atau intensitas serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Tidak diperbolehkan atau disarankan untuk mengaplikasikan herbisida pada saat populasi hanya sedikit dan bisa dikendalikan dan cukup dengan pengendalian fisik maupun mekanis. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi herbisida hanya pada waktu yang diperlukan dan tidak berlebihan.

Dosis yang digunakan disarankan sesuai aturan yang tertera di kemasan  seperti cara pelarutan, jumlah (konsentrasi), frekuensi dan periode dari aplikasi ditentukan oieh aturan untuk meyakinkan bahwa tingkat residu tidak melebihi dari standar yang telah ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan herbisida tidak berlebihan dan residunya tidak tinggi. Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi herbisida diarahkan pada sasarannya yang tepat agar herbisida yang digunakan terfokus pada bagian tanaman yang memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan residu pada bagian tanaman yang tidak perlu diaplikasi. Guna untuk memperkecil residunya, aplikasi herbisida sebaiknya tidak perlu diulang-ulang dalam jangka waktu pendek.


Selain yang telah disebutkan di atas, cara yang juga dapat meminimalisir penggunaan herbisida kimia yaitu dengan penggunaan pengendalian hayati gulma. Contoh pengendalian hayati gulma yang telah berhasil seperti: hasil penelitian Darana (2006) yang mempelajari aktivitas alelopati ekstrak daun kirinyuh (Chromolaena odorata) dan salira (Lantana camara) terhadap pertumbuhan gulma di perkebunan teh, menunjukkan bahwa ekstrak daun Chloromolaena odorata dapat menghambat pertumbuhan gulma di perkebunan teh. Ekstrak daun kirinyuh pada konsentrasi 20% maupun ekstrak daun salira mulai konsentrasi 10% menghasilkan penekanan yang lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan herbisida sintetis pembanding maupun penyiangan mekanis. Hasil penelitian Rahmawasiah (2015) juga menunjukkan bahwa dengan aplikasi ekstrak rizoma alang-alang pada gulma kedelai pada setiap minggunya, sebanyak 1 kg yang dilarutkan dengan 5 liter mampu menekan pertumbuhan  jenis rumput Digitaria adscendes. Adapun ekstrak rhizoma alang-alang sebanyak 500 gr di campur dengan 500 gr ekstrak daun kirinyuh dan dicampur jadi satu kedalam 5 liter air mampu menghambat pertumbuhan gulma Euphorbia prunifolia. Tingkat keefisienan pengendalian gulma dengan ekstrak rizoma alang-alang yaitu 25,39%.

 

Sumber Referensi

Antralina M, Istina IN, Yuwariah Y, Simarmata T. 2015. Effect of Difference Weed Control Methods to Yield of Lowland Rice in the Sobari. Procedia Food Science. 3:323-329.

Ashton FM, Monaco TJ. 1991. Weed Science Principles and Practices. John Wiley and Sons Inc. New York. 357 p.

Chikowo R, Faloya V, Petit  S, Munier JNM. 2009. Integrated Weed Management Systems Allow Reduced Reliance on Herbicides and Long-Term Weed Control. Agriculture, Ecosystems and Environment. 132:237–242.

Darana, S. 2006. Aktivitas Alelopati Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata) dan Salira (Lantana camara) terhadap Pertumbuhan Gulma di Perkebunan Teh. Jurnal Pusat Penelitian Teh dan Kina.  9(1). 1-8.

Jayanti H dan Suprapta DN. 2009. Upaya Meminimalisir Dampak Lingkungan dari Penggunaan Pestisida Dalam Pertanian (Dampak Ltngkungan dan Penanggulangannya). AGRICA. 2(1): 14-21.

Martins BH, Araujo-Junior CF, Miyazawa M, Vieira KM, Milori DMBP. 2015. Soil Organic Matter Quality And Weed Diversity in Coffee Plantation Area Submitted to Weed Control And Cover Crops Management. Soil and Tillage Research. 153:169–174.

Purba ATA dan Sebayang HT. 2019. Pengaruh Jarak Tanam dan Waktu Penyiangan terhadap Perubahan Komposisi Gulma. Jurnal Produksi Tanaman. 7(8): 1514–1520.

Rahmawasiah. 2015. Efektifitas Ekstrak Alang-Alang dan Kirinyuh terhadap Pertumbuhan Gulma dan Pengaruhnya terhadap Tanaman Kedelai (Glicyne max merril L). Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 1-25.

Tabroni, Yusnaini S, Niswati dan Utomo M. 2018. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida Terhadap Biomassa Karbon Mikroorganisme Tanah (C-mik) Pada Pertanaman Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) Tahun Ke-2 Di Tanah Ultisol Gedung Meneng Bandar Lampung. Jurnal Agrotek Tropika. 6(2): 127-132

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Penggunaan Hidrobuddy

 Perhitungan kebutuhan bahan pupuk AB Mix dapat dilakukan secara manual atau penggunaan aplikasi software. Perhitungan pupuk AB Mix dengan ...