Cara Minimalisir Herbisida Kimia
Kehadirsan gulma dengan
populasi yang rendah pada umumnya tidak terlalu mengganggu pertumbuhan dan
hasil suatu tanaman budidaya. Namun pada populasi tertentu dapat menghambat
pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil, dan menyulitkan pemanenan. Umumnya
beberapa golongan gulma yang tumbuh yaitu gulma teki, berdaun sempit, dan
berdaun lebar. Dominasi gulma pada suatu lahan dapat disebabkan oleh daya
adaptasi maupun cara berkembang biak suatu gulma.
Gulma merupakan pesaing
tanaman dalam memanfaatkan ruang, cahaya, air dan unsur hara sehingga tanaman
utama tidak dapat tumbuh optimal. Aplikasi herbisida umumnya dilakukan guna
meminimalisir pertumbuhan gulma.Penggunaan herbisida dapat dengan cepat
mengatasi keberadaan gulma, namun di sisi lain pengggunaan herbisida yang terus
menerus mengakibatkan berbagai dampak negatif yang dapat membahayakan
lingkungan dan makhluk hidup. Air, tanah, dan udara dapat tercemar yang pada
akhirnya dapat merusak ekosistem. Penggunaan yang tidak sesuai aturan juga
dapat mengakibatkan keracunan pada manusia. Gulma juga akan menjadi lebih
resisten dan ketahanan hidupnya semakin meningkat yang pada akhirnya justru
akan mempersulit pengendaliannya. Tabroni et
al. (2018), juga menambahkan bahwa sebagian besar herbisida yang
diaplikasikan ke tanaman akhirnya akan jatuh ke tanah, kemudian menyebabkan
timbulnya residu herbisida. Residu herbisida ini akan mengalami perubahan dalam
waktu tertentu yang akan terjerap oleh fraksi liat dan bahan organik dalam
tanah. Residu herbisida bersifat toksik bagi tanah karena dapat membunuh
mikroba tanah, yang sebenarnya bukan targetnya (non target microorganism) sehingga mengganggu aktivitas
mikroorganisme tanah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi siklus hara dalam
tanah.
Walaupun telah diketahui
bahwa herbisida memiliki dampak buruk terhadap lingkungan terutama herbisida
kimia, namun penggunan herbisida masih tetap diperlukan dalam pertanian.
Penggunaan herbisida hanya dilakukan apabila benar-benar diperlukan sebagai
upaya pengendalian terakhir setelah pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi
permasalahan gulma tersebut. Salah satunya yaitu menurut Antralina et al. (2015), dua strategi efektif
dalam pengendalian secara kimiawi adalah dengan melakukan rotasi herbisida dan
adanya pencampuran penggunaan herbisida. Pencampuran herbisida dengan bahan
aktif yang berbeda bertujuan untuk mendapatkan kontrol spektrum yang lebih luas
dan diharapkan untuk memperlambat munculnya gulma resisten terhadap herbisida,
mengurangi biaya produksi, dan mengurangi residu herbisida.
Tingkatan dalam melakukan
pengelolaan gulma adalah pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan.
Pencegahan dilakukan dengan cara mencegah pertumbuhan gulma baru pada suatu
tempat serta membatasi pertumbuhan gulma di kebun (Ashton and Monaco 1991).
Martins et al. (2015) menambahkan,
pentingnya menjaga kualitas tanah merupakan salah satu unsur demi keberlanjutan
budidaya. Periode sampling, tanaman penutup tanah (cover crop) yang berbeda, dan metode pengendalian gulma
mempengaruhi keberagaman gulma, bobot kering gulma, kandungan karbon tanah dan
tingkat humifikasi.
Pengendalian gulma
terpadu bermanfaat untuk meminimalisir dampak dari penggunaan herbisida, emisi
gas rumah kaca, erosi tanah dan biodiversitas (Chikowo et al. 2009). Salah satu caranya ialah mengatur jarak tanam dan
waktu penyiangan gulma. Jarak tanaman yang semakin sempit dengan pola tanam
tumpang sari maupun monokultur mampu menekan pertumbuhan gulma. Waktu yang
tepat untuk penyiangan ialah pada saat kondisi lahan terbuka atau tajuk tanaman
belum saling menutupi karena pada masa ini (stadia awal pertumbuhan tanaman) sinar
matahari dapat menembus sampai ke permukaan tanah dan mendukung pertumbuhan
gulma (Purba dan Sebayang 2019).
Dampak negatif yang timbul
diusahakan sekecil mungkin, sedangkan manfaatnya diupayakan sebesar mungkin,
dalam hal ini memperkecil residu herbisida pada hasil pertanian, dapat ditempuh
langkah-langkah sebagai berikut (Jayanti dan Suprapta 2009):
1. Memilih
herbisida yang muda terurai (tidak persisten)
Suatu
pestisida tertentu termasuk herbisida mempunyai sifat mudah teroksidasi,
tereduksi, terhidrolisa dan mengalami reaksi lain sehingga akan rusak atau bahkan
menjadi senyawa Iain yang tidak berbahaya. Berdasarkan sifat fisikokimianya ada
herbisida yang tidak mudah rusak di alam, sehingga tetap berada di alam dalam
jangka waktu panjang (persisten). Sebaliknya, ada pestisida termasuk herbisida yang
mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam sehingga keberadaannya di alam
hanya dalam waktu pendek (non persisten). Cara untuk mengukur mudah tidaknya
suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan parameter waktu paruh
{Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa tersebut terurai di alam
(dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah, air, udara).
DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan jangka
waktu tahun.
2. Memilih
herbisida yang tepat sasaran
Supaya
penggunaannya efektif, jenis pestisida yang akan digunakan harus tepat, yaitu
disesuaikan dengan OPT (hama, penyakit, dan gulma) sasaran yang menyerang tanaman.
Seperti hebisida yang digunakan untuk membunuh gulma bukan untuk membunuh jamur.
Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri dan
tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain. Kesalahan dalam memilih
jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT
tidak terkendali dan tanaman tidak "sembuh". Hal tersebut mendorong
pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang
salah satu dampaknya adalah bertambahnya residu. Sebaliknya, apabila jenis yang
dipiiih benar dan efektif maka tidak diperlukan aplikasi ulangan lagi sehingga
residunya rendah. Oleh karena itu, OPT yang menyerang hams diamati secara
cermat sebelum memilihjenis pestisida yang tepat.
3. Pengaturan
cara aplikasi herbisida
Aplikasi herbisida
seharusnya hanya dilakukan pada waktu popuiasi atau intensitas serangan OPT
telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Tidak diperbolehkan
atau disarankan untuk mengaplikasikan herbisida pada saat populasi hanya sedikit
dan bisa dikendalikan dan cukup dengan pengendalian fisik maupun mekanis. Hal
ini dimaksudkan agar aplikasi herbisida hanya pada waktu yang diperlukan dan
tidak berlebihan.
Dosis yang
digunakan disarankan sesuai aturan yang tertera di kemasan seperti cara pelarutan, jumlah (konsentrasi),
frekuensi dan periode dari aplikasi ditentukan oieh aturan untuk meyakinkan
bahwa tingkat residu tidak melebihi dari standar yang telah ditetapkan. Hal ini
dimaksudkan agar penggunaan herbisida tidak berlebihan dan residunya tidak
tinggi. Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi herbisida diarahkan
pada sasarannya yang tepat agar herbisida yang digunakan terfokus pada bagian
tanaman yang memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan
residu pada bagian tanaman yang tidak perlu diaplikasi. Guna untuk memperkecil
residunya, aplikasi herbisida sebaiknya tidak perlu diulang-ulang dalam jangka
waktu pendek.
Selain yang telah
disebutkan di atas, cara yang juga dapat meminimalisir penggunaan herbisida
kimia yaitu dengan penggunaan pengendalian hayati gulma. Contoh pengendalian
hayati gulma yang telah berhasil seperti: hasil penelitian Darana (2006) yang
mempelajari aktivitas alelopati ekstrak daun kirinyuh (Chromolaena odorata) dan salira (Lantana camara) terhadap pertumbuhan gulma di perkebunan teh,
menunjukkan bahwa ekstrak daun Chloromolaena
odorata dapat menghambat pertumbuhan gulma di perkebunan teh. Ekstrak daun
kirinyuh pada konsentrasi 20% maupun ekstrak daun salira mulai konsentrasi 10%
menghasilkan penekanan yang lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan
herbisida sintetis pembanding maupun penyiangan mekanis. Hasil penelitian
Rahmawasiah (2015) juga menunjukkan bahwa dengan aplikasi ekstrak rizoma
alang-alang pada gulma kedelai pada setiap minggunya, sebanyak 1 kg yang dilarutkan
dengan 5 liter mampu menekan pertumbuhan jenis rumput Digitaria adscendes. Adapun ekstrak rhizoma alang-alang sebanyak
500 gr di campur dengan 500 gr ekstrak daun kirinyuh dan dicampur jadi satu
kedalam 5 liter air mampu menghambat pertumbuhan gulma Euphorbia prunifolia. Tingkat keefisienan pengendalian gulma dengan
ekstrak rizoma alang-alang yaitu 25,39%.
Sumber
Referensi
Antralina M, Istina IN, Yuwariah Y,
Simarmata T. 2015. Effect of Difference
Weed Control Methods to Yield of Lowland Rice in the Sobari. Procedia Food Science. 3:323-329.
Ashton FM, Monaco TJ. 1991. Weed
Science Principles and Practices. John Wiley and Sons Inc. New York. 357 p.
Chikowo R, Faloya V, Petit S, Munier JNM. 2009. Integrated Weed Management Systems Allow Reduced Reliance on Herbicides
and Long-Term Weed Control. Agriculture,
Ecosystems and Environment. 132:237–242.
Darana, S. 2006. Aktivitas Alelopati
Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena
odorata) dan Salira (Lantana camara)
terhadap Pertumbuhan Gulma di Perkebunan Teh. Jurnal Pusat Penelitian Teh dan
Kina. 9(1). 1-8.
Jayanti H dan Suprapta DN. 2009. Upaya
Meminimalisir Dampak Lingkungan dari Penggunaan Pestisida Dalam Pertanian
(Dampak Ltngkungan dan Penanggulangannya). AGRICA.
2(1): 14-21.
Martins BH, Araujo-Junior CF,
Miyazawa M, Vieira KM, Milori DMBP. 2015. Soil
Organic Matter Quality And Weed Diversity in Coffee Plantation Area Submitted
to Weed Control And Cover Crops Management. Soil and Tillage Research.
153:169–174.
Purba ATA dan Sebayang HT. 2019. Pengaruh
Jarak Tanam dan Waktu Penyiangan terhadap Perubahan Komposisi Gulma. Jurnal Produksi Tanaman. 7(8):
1514–1520.
Rahmawasiah. 2015. Efektifitas
Ekstrak Alang-Alang dan Kirinyuh terhadap Pertumbuhan Gulma dan Pengaruhnya
terhadap Tanaman Kedelai (Glicyne max
merril L). Jurnal Pertanian
Berkelanjutan. 1-25.
Tabroni, Yusnaini S, Niswati dan
Utomo M. 2018. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida Terhadap
Biomassa Karbon Mikroorganisme Tanah (C-mik) Pada Pertanaman Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) Tahun Ke-2 Di
Tanah Ultisol Gedung Meneng Bandar Lampung. Jurnal
Agrotek Tropika. 6(2): 127-132

Tidak ada komentar:
Posting Komentar